Tuesday, July 30, 2019

Reyog Ponorogo? Barang apa itu?


Assalamualaikum

Hai, sisters brothers!!!

Kali ini aku bukan mau membahas masalah kecantikan, tapi mau memperkenalkan budaya asal daerah kelahiranku. Ponorogo.

Sudah tahu tentang Reyog? Reyog Ponorogo, kalau membaca kata Reyog apa sih yang ada dalam pikiran kalian? Tarian? Mistis? Festival? Atau tragedy reyog yang mau diklaim oleh Negara lain?
Heheheh.



Sejujurnya, masih banyak temen-temen dari luar Ponorogo atau yang berasal dari luar Jawa Timur yang tidak kenal dengan Reyog Ponorogo. Waktu aku kuliah aja nih ya, ada temen dari Bojonegoro juga gak tau apa itu Reyog Ponorogo. Bahkan kota Ponorogo aja banyak yang belum dengar.
Lebih banyak lagi yang kenal Reyog Ponorogo karena ada masalah "klaim" kepemilikan Reyog Ponorogo. Jadi, semisalkan tidak ada permasalahan tersebut, mungkin mereka masih belum tahu tentang Reyog Ponorogo.

Aku pribadi, bangga lho ketika ada Negara lain yang mau ngeklaim Reyog sebagai budaya mereka. Karena ini bukti bahwa budaya Indonesia bikin Negara lain pengen punya kan. Yang bikin sedih itu, ketika banyak masyarakat Indonesia, yang belum tau apa itu Reyog Ponorogo. Ya, karena budaya Indonesia itu sangat banyak, bisa jadi masih banyak juga yang aku belum tahu.

Reyog Ponorogo sudah memiliki hak cipta kesenian Reog yang  telah dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004.

Ditulisanku kali ini mungkin aku ingin berbagi sedikit informai saja ya, informasi yang aku tahu dan yang aku baca, jadi KALAU ADA YANG SALAH MOHON DIKOREKSI. Sebenarnya sudah ada buku yang berisi informasi tentang Reyog Ponorogo, yaitu "Seni Reyog Ponorogo. Sejarah, Nilai dan Dinamika Dari Waktu Ke Waktu"Karya Drs. Rido Kurnianto, M.Ag. Untuk yang penasaran, boleh beli dan baca ya.

Okay, mari kita mulai.

Alasan diciptakan tarian Reyog Ponorogo


Tarian Reyog Ponorogo sendiri berasal karena pemberontakan yang dilakukan oleh abdi Kerajaan Majapahit,  Ki Ageng Kutu, kepada Raja Majapahit pada abad ke-15. Karena sudah keluar dari istana, maka Ki Ageng Kutu membuat sebuah padepokan yang mengajarkan para pemuda-pemuda tentang seni bela diri agar bisa membawa kejayaan untuk Majapahit. Kemudian, Ki Ageng Kutu juga membuat pagelaran yang tujuannya adalah untuk mengkritik Raja Bra Kertabumi dan pemerintahan saat itu.
Dalam pagelaran tersebut ada beberapa objek yang digunakan untuk menyindir sang Raja Bra Kertabumi, yaitu barongan, jathil dan warok. Setiap karakter memiliki arti sendiri-sendiri.

DISCLAIMER:

[Aku pribadi bukan orang yang ahli dalam seni Reyog Ponorogo. Tulisan ini berasal dari berbagai sumber, nanti akan saya lampirkan di bawah. Tulisan ini bukan murni 100% dari pengetahuan saya pribadi, tapi hasil membaca dan mencari informasi ya. Jika ada kesalahan penulisan, kesalahan sumber, kekurangan kredit, mohon diinformasikan. Terimakasih}


Kepala Barong/Singo Barong/ Dadag Merak




Singo Barong ini adalah kepala singa sebagai raja hutan yang melambangkan Raja Bra Kertabumi. Kemudian, di atas kepala singa tersebut ditancapkan banyak bulu merak hingga mirip seperti kipas sebagai analogi dari kuatnya pengaruh kolega Cinanya terhadap kepemimpinannya saat itu.
Ini menjadi salah satu alasan Ki Ageng Kutu memberontak sang Raja Bra Kertabumi karena Raja terlalu terpengaruh oleh rekan Cina dan melakukan korup pada masa pemerintahannya.
Akan tetapi ada juga cerita yang mengkisahkan kepala singa ditancapkan dengan banyak bulu merak yang indah ini sebagai sindira kepada Raja Majapahit yang terlalu lemah, karena dipengaruhi oleh permaisurinya sendiri.

Jathil


Jathil adalah pasukan berkuda yang sebenarnya adalah laki-laki, akan tetapi didandani dan dipakaikan busana seperti layaknya perempuan. Tarian yang disajikan juga lemah gemulai. Jathil ini juga merupakan suatu tarian yang menyindir prajurit Majapahit yang lemah, tidak gagah, tidak heroic, tidak pemberani seperti seharusnya seorang prajurit.
Akan tetapi, sekarang penari jathil akan ditarikan oleh wanita/perempuan dengan busana prajurit.
Penari jathil awalnya ditarikan oleh kelompok gemblak. Gemblak sendiri adalah anak laki-laki usia remaja yang diangkat menjadi anak oleh warok. Orang tua anak yang akan dijadikan gemblak tersebut akan diberi upah, bisa berupa sawah atau binatang ternak. Gemblak akan diberi pengetahuan oleh waroknya seperti ilmu sopan santun dan sebagainya.
Akan tetapi, setelah banyak dibangun sekolah-sekolah, tradisi gemblak ini mulai menghilang.

Warok

(sumber: Indonesiakaya.com)

Untuk warok sendiri sangat banyak informasi mengenai asal muasal terjadinya warok. Akan tetapi yang pasti warok ini sudah ada sebelum tarian Reyog diciptakan oleh Ki Ageng Kutu. Warok sendiri adalah tokoh penting di masyarakat.
Warok merupakan sosok yang bijaksana, kuat dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya dan terkenal sarat akan ilmu magis. Oleh karena itu, tidak heran dulu warok juga sering dipakai untuk kepentingan politik, walaupun banyak warok yang dirugikan dan terancam keselamatannya karena hal itu.

(ini warok tua ya btw ceritanya, soalnya kalau reyog edrek di desa biasanya memang tidak ada Warok dan Kelono Sewandono)

Akan tetapi kemunculan warok untuk keperluan tarian adalah sebagai analogi dari Ki Ageng Kutu yang kuat, yang mampu untuk mengangkat kepala singo barong yang beratnya puluhan kilogram hanya dengan menggunakan kekuatan gigi saja. Lagi-lagi sindiran untuk pemerintahan Raja Bra Kertabumi.

 ------------------------------------------------

Nah, sebenarnya (semoga tidak salah) hanya 3 karakter ini saja yang ada dalam pagelaran tarian Reyog, akan tetapi seiring perkembangan ide, masyarakat mulai mengembangkan kreatifitasnya dengan menambahkan beberapa karakter dalam tarian tersebut seperti Bujang Ganong dan Kelono Sewandhono.
(Bujang Ganong)

(Kelono Sewandono. Sumber, fotografer.net )

Cerita yang berkembang di masyarakat pun sangat beragam. Akhirnya Singo barong, jathil dan warok lebih dipahami oleh masyarakat sebagai sebuah pertunjukan. Kalau kita lihat pada saat festival, akan banyak cerita tarian Reyog yang disajikan. Yang paling banyak adalah cerita Kelono Sewandono yang ingin mempersunting Dewi Songgo Langit.

Sebenarnya, menurut sumber, tidak ada pakem yang pasti dalam seni Reyog baik itu tarian, gamelan, urutan tari, jenis pakaian dan lain sebagainya. Biasanya, tiap daerah memiliki cirinya masing-masing. Akan tetapi, seperti yang bisa kita lihat sekarang, hampir semua tarian, gamelan, urutan dan kelengkapan pagelaran Reyog terlihat seragam. Ini  berawal dari permintaan Pangdam Brawijaya yang saat itu mengehendaki adanya pementasan 100 dadag merak (singo barong) dan ratusan penari jathil untuk acara ulang tahun Kodam Brawijaya.


Pada acara tersebut akhirnya semua dadag merak dan penari jathil yang berasal dari berbagai daerah berkumpul, dan menarikan tarian Reyog dalam iringan 1 perangkat gamelan. Jadi, sejak saat itu tarian Reyog mulai terlihat dan terdengar seragam, sampai sekarang.
Sebagai warga Ponorogo, aku berterimakasih sekali pada semua tokoh sepuh reyog dan semua pihak yang menjadikan Reyog seluar biasa ini.



Lebih senengnya lagi, tahun ini bakalan banyak pagelaran Reyog Ponorogo yang diadakan oleh pemerintah daerah. Yaitu Gebyar Reyog Desa. Jadi setiap bulan atau beberapa bulan sekali, semua desa di Ponorogo akan menyajikan pagelaran tarian Reyog di desanya masing-masing. Ini berbeda dengan festival Reyog Nasional dan Pagelaran Reyog bulan purnama.
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat luar kota Ponorogo yang kebetulan sedang berada di Ponorogo, bisa menikmati tarian Reyog ini di desa manapun mereka berada.


Okay, selesai sudah tulisan pertamaku tentang salah satu budaya Indonesia yang berasal dari kota kelahiranku, Ponorogo. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan kita semua ya. Gara-gara aku pengen share tentang tradisi di Ponorgo, akhirnya aku juga mendapat informasi baru, sebelumnya aku gak pernah mengira ternyata cerita aslinya itu seperti ini.
Semoga tulisanku ini bermanfaat ya.
Terimakasih

Wassalamualaikum


Sumber:
http://legendaponorogo.blogspot.com/2015/09/warok-suro-menggolo.html
http://www.ulinulin.com/posts/asal-usul-reog-ponorogo-warisan-budaya-yang-mendunia
https://www.liputan6.com/regional/read/3236121/sindiran-di-balik-lakon-penari-jathil-reog-ponorogo?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F

Reactions:

1 comment: